Jam Pelajaran Siswa SD-SLTA Bakal Ditambah
Mulya Achdami — HARIAN TERBIT
JAKARTA — Seiring dengan timbulnya pro-kontra di masyarakat, pemerintah saat ini tengah mengkaji rencana kemungkinan dikeluarkannya kebijakan mengenai penambahan jam belajar bagi semua siswa di jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Penambahan jam belajar ini dilandaskan pada perlunya memproteksi para siswa dari lingkungan negatif di luar sekolah.
“Terjadinya perubahan nilai sosial yang di masyarakat menuntut adanya perubahan di dunia pendidikan. Daripada lebih banyak di luar sekolah dan tercemar hal negatif, lebih baik kita perpanjang waktu di sekolahnya,” tegas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh saat ditemui seusai membuka Indonesian Science Festival (ISF), di Senayan, Jakarta.
Diakui Nuh, berdasarkan hasil kaji ulang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), efektivitas pembelajaran di sekolah masih sangat kurang, meskipun di lain sisi Pendidikan Menengah Universal (PMU) telah mulai dilaksanakan di pertangahan tahun ini.
Dia mengemukakan, sekarang ini berapa lama anak-anak berada di sekolah, enam sampai delapan jam. Namun, untuk apa kalau efektivitasnya belum memuaskan, maka pemerintah tambah waktu di sekolahnya. Meski begitu, rencana kebijakan ini belum final.
“Penambahan jam belajar bagi siswa tidak akan memberikan bebas secara psikologis. Pasalnya, penambahan waktu tersebut bukan semata-mata untuk mengikuti pelajaran secara formal di dalam kelas. Tidak serta merta menjadi beban, tergantung bagaimana mengemasnya. Intinya, jangan sampai menambah beban belajar formal. Misalnya, jangan sampai sudah ada pelajaran matematik empat jam, kemudian ditambah menjadi enam jam,” tegasnya.
Mendikbud mengemukakan, penambahan waktu tersebut harus menitikberatkan kepada kegiatan-kegiatan mendasar untuk pendidikan karakter sehingga dapat memberikan manfaat bagi para siswa. “Bisa dengan kegiatan ekstrakulikuler, kegiatan keagamaan, atau berdiskusi bersama teman atau guru,” ungkapnya.
Latar belakang wacana tersebut karena saat ini sudah terjadi perubahan sosial di masyarakat. Dimana, para orangtua terlalu disibukkan dengan pekerjaan dan kegiatan, sehingga, anak menjadi kurang pengawasan ketika lepas dari sekolah.
“Sekarang ini, ketika anak pulang kerumah banyak orangtua yang masih bekerja, lingkungan pun juga tidak menjamin. Karena itu, lebih baik stay di sekolah, dan guru bisa memberikan pendampingan yang lebih. sehingga tercipta aspek proses belajar mengajar,” tutur Nuh.
Pelaksana tugas (plt) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas) Kemdikbud, Suyanto menjelaskan, rencana penambahan jam belajar di sekolah tersebut masih dalam proses kajian bersama dengan para pakar dan ahli pendidikan.
“Kalau nanti ditambah jam belajarnya, maka konsekuensinya mata pelajaran harus dikurangi. Metode pembelajarannya pun juga bisa dirubah menjadi lebih tematik,” terang Suyanto.
Saat ini, katanya, jumlah mata pelajaran yang harus diampu oleh para peserta didik tidaklah sedikit. Untuk SD ada sembilan mata pelajaran, SMP 12 mata pelajaran, dan SMA memiliki 16 mata pelajaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar